Sape’, Alat Musik Tradisional Suku Dayak

Sape’, Alat Musik Tradisional Suku Dayak

Sape’, alat musik tradisional suku Dayak, adalah alat musik yang dentingannya menyatakan perasaan, baik perasaan riang gembira, rasa sayang, kerinduan, bahkan rasa duka nestapa. Dahulu, memainkan Sape’ pada siang hari dan malam hari memiliki perbedaan. Apabila dimainkan pada siang hari, umumnya irama yang dihasilkan Sape’ menyatakan perasaan gembira dan suka-ria. Sedangkan jika Sape’ dimainkan pada malam hari biasanya akan menghasilkan irama yang bernada sendu, syahdu, atau sedih.

Terdapat ungkapan mengenai Sape’ yang termuat dalam Tekuak Lawe, sastra lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam tradisi masyarakat Dayak. Ungkapan yang berbunyi Sape’ benutah tulaang to’awah itu secara harfiah dapat diartikan Sape’ mampu meremukkan tulang-belulang hantu yang bergentayangan. Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa alat musik Sape’ mampu membuat orang yang mendengarnya merinding hingga menyentuh tulang atau perasaan. Bagi para tetua adat Dayak di zaman dahulu, keyakinan akan kesakralan Sape’ memang betul bisa dirasakan karena suasana pedesaan dan nuansa adat pada saat itu masih sangat kental.

Hingga kini, kepercayaan akan tuah Sape’ masih diyakini oleh para sesepuh Dayak, misalnya ketika Sape’ dimainkan dalam suatu upacara adat.Saat bunyi petikan Sape’ terdengar, seluruh orang akan terdiam, kemudian terdengar sayup-sayup lantunan doa atau mantra yang dibacakan bersama-sama. Dalam suasana seperti ini, tidak jarang di antara mereka ada yang kerasukan roh halus atau roh leluhur. Sape’ juga dimainkan pada saat acara pesta rakyat atau acara gawai padai, Sape’ dimainkan untuk mengiringi tari-tarian yang lemah gemulai.

Seiring dengan perkembangan zaman, Sape’ kemudian tidak hanya berfungsi sebagai alat musik untuk menyatakan perasaan saja, namun sampe juga mulai sering dimainkan bersama dengan alat-alat musik lainnya. Pemuda Dayak gemar memainkan Sape’ sambil berkumpul bersama di malam hari. Selain itu, Sape’ dimainkan oleh kaum Lelaki Dayak untuk menarik perhatian perempuan yang dicintainya. Sape’ juga berfungsi sebagai alat musik hiburan dalam suatu keluarga besar. Tradisi orang Dayak yang tinggal di rumah betang membuat Sape’ menjadi sarana yang termudah untuk meramaikan suasana atau untuk menghibur ketika ada salah seorang anggota yang sedang bersedih. Di rumah betang, tersedia sebuah ruangan besar untuk acara adat atau sebagai ruang keluarga. Di ruang besar inilah, para pemuda Dayak saling unjuk kemahiran dalam memainkan Sape’. Tidak hanya itu, Sape’ juga sering dimainkan sebagai wujud rasa syukur atas peristiwa atau moment tertentu, misalnya ketika hasil panen melimpah.

Tritama Rental Mobil Pontianak
Atong, salah satu pembuat Sape’ dan Tattoo khas Dayak di Pontianak.

Atong, seorang pemuda asli Dayak sekaligus pembuat Sape’, menuturkan alat musik Sape’ dibuat dari kayu Cempedak yang sudah tua, proses pembuatan sekaligus pengukiran ornamen khas Dayak biasanya memerlukan waktu hingga 2 minggu, selain membuat Sape’, keseharian Atong diisi dengan membuat Tattoo bermotif khas suku Dayak.

Tritama Rental Mobil Pontianak
Fery Sape’, pemain Sape’ profesional yang membuat alat musik tersebut berdenting hingga keliling dunia.

Seorang pemain alat musik Sape’ yang sudah sangat terkenal di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat, Fery, telah membawa Sape’ naik dari panggung ke panggung di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. Bahkan, pria yang akrab disapa Fery Sape’ ini, sudah manggung di berbagai negara seperti China, Jepang, Ukraina, Dubai, dan lain-lain. Hampir selama tiga bulan, pada Desember 2013 sampai awal Februari 2014, Fery Sape’ berada di Dubai untuk manggung dalam acara Dubai Shoping Festival. Sebelumnya, untuk acara serupa, ia manggung di Iran.

Leave a Reply